Recent Articles

Tampilkan postingan dengan label sablon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sablon. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

Cara Menyelamatkan Kaos Dari Kegagalan Sablon

0 komentar
Sebagian dari Juragan2 & Boss2 sekalian pasti pernah mengalami sablon yang gagal. Entah itu menggunakan JPSS ataupun Coastal Inkjet Opaque. Pasti kecewa karena selain tidak puas akan hasil yg didapat, Kaos maupun Transfer paper sudah tidak dapat dipergunakan/ Dijual.
Disini saya ingin membagi pengalaman saya jika terjadi kesalahan/ kegagalan sablon. Utk kaos, jangan langsung dipinggirkan/ dipakai sendiri Pak. Sebenarnya kaos tersebut masih bisa dijual lagi. Gimana caranya?
Kasus yg terjadi jika menggunakan Coastal Inkjet Opaque.
Jika Anda gagal menyablon dengan menggunakan Transfer Paper Coastal Inkjet Opaque, pertama2 Anda ambil kertas HVS yg masih bersih. Letakkan kaos yg gagal disablon tadi diatas mesin heat Press. Tutupi hasil Sablon yg gagal tadi dengan kertas HVS. Harus seluruh hasil sablon tertutup dengan kertas HVS. Lalu Press lagi sama seperti Anda nge-press Inkjet Opaque. Yaitu 195-200 derajat selama 25-30 detik. Setelah selesai dan alarm heat press bunyi, langsung cabut kertas HVS tersebut panas2. Sambil dicabut, tahan juga baju supaya hasil cabutannya bisa lebih cepat, karena sedikit keras. Tetapi harus dilakukan secepat mungkin, jangan sampai dingin. Nah selama anda mencabut panas2 itu, lapisan inkjet opaque akan menempel di kertas HVS itu. Kenapa ngak boleh sampai dingin, karena kalau sampai dingin, Lem yg ada di inkjet opaque mengeras, akan susah Anda untuk mencabut kembali lapisan Inkjet opaque tersebut. Karena tehnik ini tidak bisa diulang 2 kali. Sebab kertas HVS dan Lapisan Inket Opaque akan menyatu. Anda tidak bisa mengulangi lagi memakai kertas HVS. Setelah Anda berhasil mencabut, hasilnya akan terlihat lapisan Lem di kaos yg sudah dicabut sablonannya. Memang Anda sudah tidak dapat menjual kaos polos itu begitu saja, karena ada bekas lapisan lem dari Inkjet Opaque. Terus gimana mengakalinya supaya bisa dipakai kembali? Mudah, Anda bisa menimpa bekas lapisan Lem tersebut dengan sablon yg baru yg gambarnya harus lebih besar daripada bekas Lem tersebut. Jadi Lapisan Lem tersebut tidak kelihatan lagi. Sehingga kaos tadi yg tidak bisa dijual, sekarang Anda bisa jual lagi dengan sablon yg pastinya harus menutupi lapisan Lem tersebut.
Ini salah satu trik yg bisa Anda gunakan untuk menyelamatkan Kaos polos Anda dari kegagalan Sablon. Tetapi kalo Untuk Papernya, heheheheehhee sudah tidak dapat diselamatkan lagi Pak. Setidaknya bisa meminimalkan kerugian Bpk.
Kasus Yang Terjadi Jika Menggunakan Jet Pro Soft Stretch
Tingkat kegagalan menyablon dengan menggunakan Jet Pro Soft Stretch sudah pasti lebih besar daripada Coastal Inkjet Opaque. Terus gimana nih mengakalinya jika sampai terjadi kegagalan. Nah kalo dalam kasus menggunakan JPSS (Jet Pro Soft Stretch) satu2nya yg bisa Anda lakukan adalah dengan menimpa bekas sablonan JPSS dengan menggunakan Transfer Paper Coastal Inkjet Opaque. Yah ini resikonya jika sampai kegagalan. Karena dalam kasus ini jelas anda tidak dapat mencabut JPSS seperti Coastal Inkjet Opaque. Karena hasil JPSS menyatu dengan bahan. Satu2nya cara yah Anda harus menyablon dengan Transfer Paper Coastal Inkjet Opaque dikaos Putih.
Nah utk menentukan apakah kaos yang gagal ini masih bisa dijual/ digunakan, Anda yang menentukan. Saya hanya memberi tahu ada cara yang seperti ini untuk menyelamatkan kaos dari kegagalan sablon. Memang untuk kasus kaos Putih, jika Anda menimpa dengan Coastal Inkjet Opaque, Bayangan dari sablon JPSS masih akan terlihat jika dilihat dari dalam baju. Sedangkan kalo untuk kasus kaos warna/ hitam, asal Anda menyablon dengan menggunakan gambar yg lebih besar dari bekas lemnya Coastal Inkjet Opaque, sisa2 bekas kegagalan sablon tidak akan terlihat sama sekali.
Nah, ini sedikit tips/ pengetahuan saya selama saya menjalani bisnis sablon dengan menggunakan Transfer Paper.

Macam-macam Jenis Cat Sablon

0 komentar

Macam-macam Jenis Cat Sablon

1.RUBBER/GL TW
    * Jenis cat ini yang biasa digunakan untuk mencetak pada bahan gelap maupun terang.
    * Jenis cat ini juga bersifat menutupi serat/rajutan kaos.

Bisa menggunakan Screen T14/35,jika akan dipakai untuk mencetak dasar yang ngeblok maka harus menggunakan screen T1000/T500.

2.PIGMEN
    * Jenis cat ini sifat dapat menyerap kedalam serat kain.bisa digunakan untuk mencetak spanduk,kaos jenis PE,TC,dll yang pasti bahannya harus berwarna terang.
    * Bisa menggunakan screen T14/35,T1000.
   
3.PLASTISOL/TRANSPARAN
    * Jenis cat ini biasa digunakan untuk mencetak raster yang halus,gradasi warna,sparasi warna,dll karena sifatnya yang berbasis minyak.
    * Bisa menggunakan screen T14/35.

4.GLOW IN THE DARK
    * Jenis cat ini dapat menyala pada tempat yang gelap.
    * Jenis cat ini bisa dicampurkan dengan RUBBER,PIGMEN,PLASTISOL.
    * Bisa menggunakan screen T1000.


5.REFLEKTIF/PHOTO

    * Jenis cat ini kebalikan dari glow in the dark,jadi bisa menyala jika mendapat cahaya terutama pada siang hari bisa lebih bercahaya.
    * Jenis cat ini bisa dicampur dengan RUBBER,PIGMEN,PLASTISOL.
    * Bisa menggunakan screen T14/35.


6.FOAM/BUSA/TIMBUL
    * Jenis cat ini menghasilkan sablonan yang timbul.
    * Jenis cat ini bisa dicampur dengan Rubber,Plastisol.
Pada saat akan dipress atau disetrika bahan kaos bagian dalam harus dibalikkan dan bagian luar atau yang dicetak harus dialasi dengan busa yang halus untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.Untuk menghasilkan cetakan yang lebih timbul maka Foam nya diperbanyak.
    * Bisa menggunakan screen T14/35,T1000.

7.FLOCKING / BELUDRU
    * Jenis cat ini dapat menghasilkan hasil seperti Beludru jika sudah dipanaskan/dipress atau bisa juga menggunakan Hair dryer yang besar.
    * Bisa menggunakan screen T35,T1000.

8.DISCHARGE
    * Jenis cat ini memiliki sifat menghilangkan warna bahan kaos.

9.GLITER
    * Digunakan untuk menghasilkan efek sablon mengkilap/jika terkena sinar bisa kerlap kerlip.
    * Serbuk Gliter juga bermacam-macam ukurannya mulai dari 0.01 s/d 0.8
    * Tersedia bermacam-macam Warna tergantung kebutuhan.
    * Screen yang digunakan tergantung dari ukuran Serbuk Gliter yang digunakan.
    * Bisa dicampur dengan Plastisol.

10.SERBUK EMAS / PERAK
    * Serbuk ini hampir sama dengan Serbuk Gliter.
    * Screen yang digunakan T500.

TEKNIK SEPARASI UNTUK FILM SABLON

0 komentar

Teknik separasi untuk film sablon :
Teknik separasi ini sebenarnya sama saja dengan kalau kita membuatnya untuk film offset atau cetak dengan mesin lainnya. Perbedaannya terletak pada :
  • Cetak sablon memiliki keakuratan yang lebih kecil. Karena itu nilai overprint (masukkan) harus kita buat sedikit lebih besar untuk menghindari misregister. Bisa dibaca kembali postingan Film Untuk Sablon.
  • Cetak sablon lebih banyak menggunakan warna khusus (bukan CMYK), pemisahan warna untuk film sablon lebih sering dilakukan secara manual (lihat tulisan Film Untuk Sablon), kecuali untuk gambar yang memang mensyaratkan pemisahan otomatis oleh output devices (printer, mesin film) misalnya gambar wajah.
Separasi dengan printer :
Kita bisa juga melakukan pemisahan warna dengan mengandalkan pemisahan warna yang dilakukan oleh printer. Misalkan kita memiliki gambar dengan warna-warna seperti di bawah ini :

Warna yang kita gunakan adalah : (1). merah, yang merupakan hasil mix antara warna yellow 100% dan magenta 100%. Artinya warna merah sebenarnya adalah campuran antara warna magenta dan yellow dengan perbandingan 1:1. (2) Pantone 108C, adalah warna jadi sesuai dengan Pantone Matching System (PMS) yang dikeluarkan oleh Pantone Inc, bukan warna prosess (CMYK) . (3) Registration color, adalah warna yang akan selalu ada (ikut tercetak) bila dicetak dengan teknik separasi.
Note : Pengaturan komposisi warna prosess dalam teknik separasi merupakan hal yang sangat penting, karena seringkali warna yang kita lihat di layar monitor ternyata tidak sama dengan hasil cetaknya. Orang seringkali merasa frustrasi ketika sebuah logo, misalnya, yang telah didisain dengan susah payah ternyata menjadi terlihat sangat biru ketika telah “naik cetak”. Untuk itulah kita harus memahami komposisi warna, serta bahwa warna yang sama dapat terlihat berbeda pada bahan yang berbeda (kertas/kain/plastik). Sehingga sekalipun di layar monitor kita melihat warna yang berbeda kita tahu seperti apa warna tersebut nantinya setelah proses cetak. Inilah pentingnya hal tersebut serta mengapa Pantone menciptakan PMS. Untuk pemahaman yang lebih baik mengenai hal ini, silakan baca di sini.
Untuk pencetakan dengan printer (sebagai contoh digunakan printer HP Laserjet 8150PS) langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1 Pilih (blok) gambar yang akan dicetak, kemudian pada menu File klik perintah Print. 2 Akan muncul print menu seperti berikut :
Pada sub jendela General, pilihlah nama printer yang digunakan (HP Laserjet 8150PS). Atur Print range-nya apakah Curent document, Current page, Documents, Selection ataukah halaman-halaman tertentu saja (Pages). Jika ingin yang kita print hanyalah objek-objek yang kita tadi pilih saja, maka pada pilihan print range-nya kita set sebagai Selection. Tetukan berapa banyak duplikasi printout yang kita inginkan dengan menentukan angka pada pilihan Copies.
Untuk pengaturan pencetakan printer, klik kotakProperties. Di situ kita bisa atur jenis kertas yang akan digunakan untuk mencetak, mode pencetakan Potrait atau Landscape, dari tray mana kertas cetak diambil, dsb . Sedangkan pengaturan skala pembesaran hasil printout, posisi gambar pada kertas output, dsb kita atur pada sub jendela Layout. Jika ingin objek tersebut tercetak sebagaimana posisinya pada halaman gambar, maka padaImage posisition and size kita set sebagai “As in document”.
3 Untuk mencetak separasi, klik sub jendela Separations. Aktifkan tanda centang disebelah tulisan Print separations. Pada kotak area di bagian bawah akan muncul warna-warna yang terdapat dalam gambar atau dokumen yang akan kita print. Warna-warna yang akan tercetak sebagai hasil separasi ditandai dengan kotak berwarna dan nama warna yang bertanda centang di sebelah kirinya. Jika tanda centang disamping suatu warna kita matikan, maka warna tersebut tidak akan memiliki wakil pada hasil cetakan (tidak ikut tercetak), artinya film untuk warna tersebut tidak akan dicetak.
Untuk mengatur urutan pencetakan per warna, besarnya sudut (angle) dan Frequency (nilai raster) untuk tiap warna, aktifkan tanda centang pada pilihanUse advanced settings atau klik kotak Advanced. Pilihan ini hanya aktif kalau printer yang kita gunakan adalah dari jenis postscript printer. Jika bukan, maka kita tidak dapat mengatur besarnya sudut dan nilai raster hasil cetakan. (Untuk printer bukan postscript kita hanya dapat mengatur nilai dpi saja, yang hanya menghasilkan cetakan yang lebih halus atau kasar).
Pada contoh gambar kita, terdapat satu warna khusus (Pantone 108C). Ini akan membuat hasil cetakan kita akan terdiri atas tiga film, yaitu film untuk warna Magenta, Yellow dan Pantone 108C. Kalau kita tidak ingin ada warna khusus tetapi semua warna dianggap adalah warna prosess (CMYK), maka kita harus mengaktifkan tanda centang disamping kiri menuConvert spot colors to process. Bila ini kita lakukan, maka warna Pantone 108C akan diubah menjadi sebagai mix dari warna prosess Magenta (raster) dan Yellow (raster), sehingga kita hanya akan punya dua film (magenta dan yellow).
Untuk pengaturan film pracetak, kita bisa mengaturnya pada sub menu Prepress. Di sini kita bisa atur :
  • Paper/film setting : Invert , untuk menghasilkan film negatif; dan mirror untuk menghasilkan film terbaca terbalik. Film untuk offset biasanya dicetak mirror (terbalik), sedangkan untuk sablon tidak (kecuali untuk cetak sticker atau flocking).
  • Tanda-tanda cetak dan informasi film.
4. PostScript. Disinilah kita bisa mengatur nilai raster dari film yang ingin kita hasilkan. Sekali lagi, sub menu ini hanya ada bila printer yang kita gunakan adalah tipe PostScript Printer (biasanya jenis-jenis printer laser tertentu — bisa ditanyakan pada penjualnya). Untuk printer yang bukan postScript, menu ini tidak akan tampil.
Pada jendela menu postscript ini kita mengatur screen frequency (nilai raster) film yang ingin kita buat. Untuk sablon biasanya nilai 60 lpi sudah cukup halus. Kalu kita set di atas nilai 60 (misalnya 70 atau 80), maka nanti akan mengalami kesulitan pada saat proses afdruk screen dan proses cetaknya. Untuk sablon spanduk, nilai lpi tersebut bisa kita set dibawah nilai 50 hingga 30 lpi. Makin kecil nilai lpi, makin kasar (dot-nya makin besar) rasternya.
Pengaturan printer lainnya adalah pada sub menuMisc.
Bila semua proses pengaturan pencetakan dengan printer telah kita lakukan dengan benar, maka film separasi yang kita hasilkan dari contoh gambar kita tadi akan seperti gambar di bawah. Kita akan menghasilkan tiga film: A, B dan C yang masing-masing merupakan film untuk warna magenta, yellow dan Pantone 108C. Kita juga dapat menghasilkan tiga film (C, D dan E) dari gambar yang sama jika warna Pantone 108C pada gambar kita set sebagaioverprint fill (caranya: klik kanan pada gambar yang berwarna Pantone 108C, kemudian klik/aktifkan tanda centang overprint fill.
Untuk sementara hanya itu dulu pertanyaan-pertanyaan yang bisa saya jawab, mudah-mudahan bisa membantu. Insya Allah saya bisa membahas pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan.
Terimakasih

Kamis, 25 Agustus 2011

Printer DTG

1 komentar
Printer DTG atau direct to garment, seperti apakah cara kerjanya? bagaimana hasilnya? bagaimana kecepatannya? berapa harganya? apakah mesin printer DTG ini akan benar-benar menggantikan dominasi sablon kaos manual? dll. Baik mari coba kita bahas sama-sama, kebetulan beberapa waktu yang lalu saya sempat diundang oleh seorang pengusaha dibidang screen printing suplies di daerah Solo untuk melihat unjuk kerja peralatan ini, yaitu printer DTG. Sebatas apa yang saya lihat dan apa yang saya coba praktekkan, ada beberapa tingkatan ukuran dan kualitas dari mesin printer kaos DTG ini.
Desain mummy adalah hasil printer DTG
 Saat saya diundang saya melihat ada 4 buah mesin DTG disana, ada yang ukuran A4, A3 dan A2 full area. Tingkatan harganya ada yang 5 juta rupiah, 15 juta rupiah, 20 juta rupiah dan 80 juta rupiah. Lalu dalam brosurnya ada lagi yang harganya 150 juta rupiah woowww mahal banget ya. Saat itu semua mesin printer DTG yang didemokan sempat dicoba dan hasilnyapun bisa saya bawa pulang. Dari mulai yang ukuran A4 sampai yang A2 namun saat itu hanya dibuat untuk ukuran A3.
untuk printer DTG yang harga 80 juta hasilnya cukup bagus, detail jelas kepegang dan soft sedangkan untuk yang harga dibawahnya ada sedikit perbedaan. Banyak hal positive disampaikan oleh teman-teman sehubungan dengan kualitas hasil dan detail atau kesesuaian dengan desain. Namun pertanyaan selanjutnya adalah tentang teknik sablon, variasi sablon, area sablon dan lain-lain yang jelas mungkin alat ini belum bisa sepenuhnya menghasilkan banyak variant dan fleksibelitas seperti halnya sablon manual.
Demikian sekilas informasi tentang printer DTG, sebuah teknologi baru yang hadir untuk meramaikan dunia sablon. Sebagai pemain didunia sablon manual saya hanya bisa berkomentar bahwa sepertinya saat ini kita belum perlu terlalu pusing memikirkan kehadiran alat ini. Beberapa hal masih belum bisa disejajarkan dengan kemampuan dibidang sablon manual. Kecepatan mungkin berimbang atau sedikit lebih cepat tetapi output untuk mesin printer DTG dikisaran harga 5 sd 20 juta masih biasa-biasa saja dan belum semaksimal hasil sablonan manual, tetapi kalau soal detail dari gambar jelas hasilnya lebih detail dan bagus dengan printer DTG.

sablon manual

1 komentar

Teman-teman dalam kesempatan ini saya ingin sedikit cerita seputar sablon kaos khusus manual. Gambar disamping adalah contoh kaos dengan sablon manual yang tergolng sederhana atau biasa disebut blok-blokan. Dalam sablon kaos manual ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar hasil bisa maksimal. Pertama tentu saja desain, dalam mendesain seorang desainer yang baik menurut saya adalah desainer yang tahu atau mau belajar soal tekhnik sablon kaos manual. Hal ini penting karena jika desainer tidak memahami proses sablon manual sering melakukan beberapa kesalahan yang bisa berakibat hasil penyablonan tidak baik dan proses terhambat. Contoh, membuat line yang terlalu kecil, membuat efek-efek tertentu yang tidak terjangkau oleh proses sablon manual, dll. Intinya akan lebih baik dan lancar sebuah proses sablon kaos manual jika desainernya sedikit banyak memahami proses sablon.
Beberapa variasi sablon yang bisa dibuat pada sablon kaos manual sejauh yang saya tahu adalah sebagai berikut : 
Rubber
 : Adalah jenis sablon yang paling sering digunakan. Bisa untuk kaos berwarna gelap maupun terang karena sifatnya yang menumpang dan menutupi rajutan kain. Untuk sablon di atas dasar kain yg melar dibutuhkan cat rubber dengan ramuan khusus agar cat dapat mengikuti kelenturan kain dan berdaya tahan lama.
Pigment : Ini cat yang biasa dipakai untuk kaos berwarna terang karena sifatnya yg menyerap kedalam kain.
Plastisol : Cat berbahan dasar minyak, dengan kemampuan istimewa untuk mencetak dot/raster super kecil dengan hasil prima. Tanpa limbah dan sangat irit. 
Sablon Superwhite
 : Mirip dengan sablon pigment, tetapi superwhite sedikit lebih tebal digunakan untuk bahan kaos terang.
Glow in the dark : Cat dengan bahan Fosfor, yg menyala saat kaos berada di tempat gelap. Bisa rubber, pigmen maupun plastisol.
Reflektif : Cat dengan bahan Fluor yang akan menyala jika kaos disinari oleh sebuah sumber cahaya.
Discharge :Cat dengan kemampuan menipiskan/menghilangkan warna dasar kaos kemudian diisi dengan warna baru sesuai dengan kebutuhan.
Flocking beludru : Cat sablon timbul yang dilapisi beludru.
Foam atau Cat timbul :Di dunia garment international biasa disebut dengan puff print. Ada rubber, ada juga plastisol, tapi bentuk timbul keduanya berbeda.
Sablon Foil : Jenis sablon yang menggunakan kertas berbahan logam (seperti pada undangan nikah). Biasanya warna silver atau gold.
Sablon Glitter : Sablon dengan menggunakan tinta yang di campur serbuk berwarna metalik. Tersedia dalam banyak pilihan warna.
Metalic ink : Seperti gambar nomer dua, biasa dibuat efek emas dan perak.
Lebih jauh tentang hal ini akan kita bahas dalam tekhnik sablon, jadi mohon sabar dulu ya, team kami sedang mengumpulkan informasi dari para ahli sablon.
Dari proses pengerjaanya bisa dikelompokan jadi dua jenis pengerjaan. Proses sablon kaos manual dari bahan kaos potongan dan dari kaos jadi. Proses pengerjaan ini perlu perlakuan khusus ditiap bagiannya sehingga tidak bisa disama ratakan diantara keduanya. Silahkan perhatikan kaos disamping. Desain kaos seperti ini jika dikerjakan dengan proses sablon manual dengan bahan kaos jadi akan sangat riskan, kenapa? karena ketegak lurusan pada tulisan HERNIC akan sulit dijaga. Namun demikian bagi yang sudah ahli dibidang pengerjaan kaos jadi dan didukung oleh peralatan yang memadai tentu saja mengerjakan desainkaos seperti ini tidak masalah. Hal lain yang harus diperhatikan saat menyablon kaos jadi adalah bahwa sablon kaos manual dengan kaos jadi mempunyai area kerja yang sangat terbatas, tidak bisa seleluasa menyablon dengan bahan poyongan. Untuk itulah maka rata-rata vendor kaos memilih mengerjakan dengan model kaos potongan.